Tampilkan postingan dengan label Renungan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kristen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Berjaga-jagalah

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu
akan hal manapun akan saatnya (Matius 25:13)
Setiap orang tentu punya banyak keinginan dalam diri, seperti apa keinginan-keinginan itu ? yang pasti ada kaitannya dengan upaya mempertahankan diri ditengah-tengah dunia ini agar tetap eksis; bekerja dengan tekun, berupaya memenuhi kehidupan keluarga, masa depan anak dan lainnya;
Yesus dalam bacaan kita (Mat.25:1-23) memberi gambaran tentang “Parusia” (kedatangan kembali), melalui perumpamaan tentang sepuluh Gadis yang menanti kedatanganNya (Mempelai Laki-laki). Diantara kesepuluh gadis itu, lima  diantaranya bodoh (tidak memiliki persediaan minyak) dan lima yang lain dikatakan bijaksana karena lebih awal mereka telah menyiapkan persediaan minyak yang cukup (ayat 4).
Ketika waktunya telah tiba; Pelita dari kelima gadis bodoh itu hampir padam, akhirnya mereka harus pergi mencari minyak – sebaliknya kelompok gadis-gadis bijaksana mengambil bagian dalam arak-arakan menyambut mempelai Laki-laki.
Menunggu dalam kaitan dengan perikop ini, adalah keadaan di mana kita tidak bisa memastikan kedatangan yang dinanti-nantikan (ayat 13). Perumpamaan ini adalah contoh dari sikap Iman yang harus ditampilkan dengan benar, untuk tetap berjaga-jaga sebelum mengambil bagian bersama Yesus, ketika waktunya telah tiba (Kedatangan Kedua Kali).
Hanya ada dua pilihan, dan kita diminta untuk memilih salah satu: (1).Jika mempersiapkan diri dengan baik, akan mengambil bagian bersama dengan Dia. (2). Jika persiapan kita seadanya; Orang percaya akan mengalami hal seperti Gadis-gadis Bodoh yang kebingungan karena kekurangan minyak.
Sikap berjaga-jaga pada bagian ini, tidak terbatas pada saat-saat tertentu seperti; Tanggal, bulan atau Tahun; Tidak bisa disangkal bahwa keberadaan Orang Percaya saat ini juga sering memperlihatkan kecenderungan seperti ini; Biasanya kalau Hari Minggu, Ibadah Unit, Sektor, Pelayanan Perempuan, apalagi Ibadah Pelayanan laki-laki biasanya sepi-sepi saja, namun ketika memasuki Natal dan Tahun Baru, banyak orang Kristen Pulang Kampung, Ruang Gereja tidak dapat menampung kehadiran umat yang beribadah; ada kecenderungan lain – jika sesama saudara lagi bermusuhan, dibiarkan saja – tunggu sampai mau merayakan Natal atau Tahun Baru kemudian cari kesempatan untuk menyelesaikan persoalan. Pertanyaannya, bagaimana jika Kristus datang sebelum Perayaan Natal dan Tahun Baru ? ha ha ha ha ha
Kita diharapkan untuk tetap berjaga-jaga (waspada) setiap saat, disetiap helaan nafas kita – entah pagi, siang, maupun malam, bahkan disaat kita tertidurpun, kita hidup bersama-sama dengan Dia (bc.Tes.5:10), mungkin ada yang bertanya-tanya; jika kita tertidur bagaimana bisa kita mengetahui kedatanganNya ? “Berdoa, berdoa dan terus berdoa sebelum tidur juga kan ? berdoa juga salah satu persediaan kita; Bukan tidak mungkin, kalau sedang lelah karena kerjaan di kantor menumpuk, semalaman lembur, kerja di kebun sangat melelahkan, membuat kita lupa akan persediaan kita yang satu ini ;”kalau tidak tidur, lantaran takut Yesus akan datang dan terus begadang, bisa-bisa kehabisan darah ha ha ha ha”.
“Karena kamu sendiri tahu benar-benar bahwa Hari Tuhan datang seperti Pencuri pada Malam Hari (1 Tes. 5:2).
Benar; Kita harus berjaga-jaga, namun penantian kita adalah dalam Iman dan Pengharapan. Tingkah laku dan perbuatan kita akan diuji dalam kaitan dengan berjaga-jaga ini. Yesus menekankan perlunya kesetiaan dan kesiagaan sampai Dia kembali. Perumpamaan ini menekankan bagi Semua orang percaya untuk tekun dalam Iman dan Kesiapan Rohani yang memadai; Minyak dalam perumpamaan ini, melambangkan “Iman yang sejati”.
Sudah tentu; banyak hal telah dialami oleh kita hingga saat ini. Perjuangan hidup yang berat, berupaya memenuhi kebutuhan hidup tiap-tiap hari, menyiapkan masa depan anak-anak; tentu membutuhkan keseriusan dari kita untuk menjalaninya; Sudah pasti Semua itu adalah bagian dari tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai sebuah proses berjaga-jaga. Mengambil bagian secara baik, lewat tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita ditengah-tengah dunia ini adalah juga kebijaksanaan anak-anak Tuhan untuk menanti kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.
Mungkin persediaan awal telah kita gunakan hingga saat ini, seperti: Melayani Suami dengan setia, menyayangi isteri dan anak-anak,menghormati orang tua, berdoa dan ke Gereja – Tetapi itu saja belum cukup; sebab ada begitu banyak persediaan  yang harus digunakan, seperti: berbuat baik kepada sesama (bc.Ef.2:10), bekerja dengan jujur/tidak korupsi (lih. Yoh.14:12,13), tidak bersumpah dusta (bc. Maleaki 3:5), melayani dengan tulus (Gal.5:13) dan masih banyak lagi persediaan yang harus digunakan oleh kita dalam menjalani hidup ini. Dengan membaca Alkitab, kita akan tahu lebih banyak – apa saja yang telah tersedia dan siap digunakan. Mungkin ada yang mengatakan ; ternyata berat juga jadi “Mempelai Perempuan”, memang berat dan sangat berat – lebih dari sekedar kerja dikebun sampai sore, melaut, lembur sampai pagi dikantor dll. Bahkan, masalah-masalah diseputar hidup keluarga, jemaat dan masyarakat adalah keadaan di mana kita harus menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, sebab tanpa penyerahan dan penundukan diri yang sungguh kepada Tuhan; Semua persediaan kita tidak ada gunanya.   
Kesungguhan Iman kita diuji; Yesus hadir di dunia, sekaligus mengambil bagian secara apa adanya dengan seluruh keberadaan umat manusia. Dia mau kita melakukan pekerjaan baik di dunia ini.
Yesus berkata: ‘Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu Aku akan  melakuannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak’(Yoh.14:12-13).
Perumpamaan tentang “Lima Gadis Bijaksana dan Lima gadis Bodoh”, memberi gambaran bagi kita untuk segera bertindak  dan menyadari seluruh keberadaan kita. Segalanya telah tersedia; tinggal bagaimana kita mengambil dan memanfaatkannya.
Rasul Petrus mengatakan dalam 2 Petrus 3:14,15: “Sebab itu, saudara-saudara yang terkasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda dihadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat”.
Jika tidak dimulai dari sekarang, kita akan mengalami kesulitan, bahkan untuk mencari persediaan minyakpun tidak bisa. Mengapa ? Jika waktunya telah tiba; bagaimana bisa kita mencari perbuatan baik , bekerja dengan jujur, tidak korupsi lagi, bagaimana menyatukan keluarga akibat perceraian, atau tidak lagi menyebut nama Tuhan dengan sia-sia – jika saat itu mempelai telah tiba ! dan Dia memanggil satu-persatu masuk dalam kemuliaanNya ! Tidak bisa; Karena segalanya telah berakhir. “Kata orang Menyesal biasanya datang dari belakang”.
Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga (Mat.24:22) Mungkin hari ini, besok, lusa, pokoknya siap sedialah.
‘IGNORAMUS IGNORABIMUS’ : saya tidak tahu dan saya tidak akan pernah tahu; Hanya Allah Bapa di Sorga yang tahu. .

Kamis, 17 Oktober 2013

PERSEPULUHAN



Persepuluhan
Maleakhi 3:6-12
By: Okter Tapilouw, S.S i  

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam,apakah Aku tidak  membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (ayat 10)

Apa yang sedang diupayakan dalam hidup ini ! Bagi orang percaya – seluruh hidup kita adalah karena Kasih Karunia Tuhan.
Pekerjaan sesehari yang menumpuk dan menyita waktu, kebutuhan material, berupaya memenuhi pendidikan anak, juga kebutuhan rohaniah untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Bagaimana seharusnya kita mewujudkan berbagai hal yang sedang diperjuangkan ?
Di pertanyakan pada ayat 8: “ Bolehkah manusia menipu Allah ? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau ?” mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus !
Bolehkah manusia menipu dari Allah ? atau bolehkah Orang Kristen menipu dari Allah ?
Kebesaran Kasih Allah telah nyata dalam kehidupan kita secara apa adanya. Keterbatasan diri, ketamakan, uang dan harta kekayaan lainnya: Beberapa hal ini, perlu diwaspadai, sebab jika tidak ditata dan dimanfaatkan dengan baik, sangat mungkin berpotensi merusak jati diri anak-anak Tuhan yang harus menyerahkan diri secara utuh kepada Allah. Sudah banyak yang terbukti; ada yang menjauhi dan dijauhi saudara sendiri, hidup hanya berpusat pada materi, mengorbankan orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar – bahkan mungkin untuk memberi bagi Tuhan dalam pelayanan dan kesaksian – adakah orang Kristen yang main perhitungan ?
Firman Tuhan bagi bangsa Israel : “Kembalilah kepadaKu, maka Aku akan kembali kepadaMu.
Kita diharuskan untuk kembali. Dengan tetap berada dijalan Tuhan, maka Tuhan akan berpihak kepada kita. Tidak kurang dari orang percaya yang merasa sudah kembali, atau hidup bersama Tuhan, tapi sebenarnya belum kembali. Saya mengatakan ini, karena banyak dari kita yang sering menipu diri sendiri. Bagi saya : menipu diri sendiri itu, tidak beda dengan menipu Tuhan (ingat kisah Ananias dan Safira).
Ketulusan, kejujuran, dan kerelaan untuk memberi dari hasil kerja keras dan apa yang sedang dinikmati sekarang ini, adalah juga kebahagiaan untuk memuliakan Tuhan, dan dari sanalah kita menjadi penyalur-penyalur berkat bagi orang lain.
10% Rugikah kita ?  ketika kita mendapatkan 10.000,- kemudian memberikan 1.000,-  atau 100,000,- dan memberikan 10,000,- sebagai tanda ungkapan syukur kepada Allah  yang telah menguatkan kita untuk hidup di tengah-tengah dunia ini ?
Firman Tuhan : “Bawalah seluruh persembahan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makan di rumahKu dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan”(ayat 10).
Sudahkah kita memberi ? apa yang kita beri ? tuluskah kita ? Atau adakah dari kita yang selama ini belum pernah memberi            persepuluhan ?
Andaikata; Tuhan kita seperti “Rentenir” atau “Tukang Tagih Hutang” !, saya kira ada begitu banyak orang Kristen yang mengunci pintu rapat-rapat, atau melarikan diri, lantaran hutang persepuluhannya sudah menumpuk bertahun-tahun dan sepertinya sulit untuk dilunasi,,,, ha ha ha ha .
Sayangnya Tuhan kita; tidak seperti itu. Dia bahkan menunggu kita untuk segera bertobat dan berbalik kepadaNya. Bagi orang percaya, Yesus Kristus telah menjadi persembahan  yang sempurna, yang rela menyerahkan dariNya menjadi tebusan bagi dunia ini. Karena itu tidaklah salah, jika saya mengatakan bahwa: Apapun yang telah kita terima dari Allah, dan apa pula yang kita berikan bagiNya, akan mencerminkan hati kita; yaitu: Hati yang rela, tulus, jujur dan benar.  Jika kita dipenuhi dengan kerelaan, kejujuran, ketulusan, dan kebenaran dalam hal memberi bagi pekerjaan pelayananNya, maka tidak akan sulit bagi kita untuk melakukannya terhadap sesama. Sepersepuluh saja sudah menyenangkan Tuhan ! Apalagi 15, 20, 30% dan seterusnya yang diberi dengan hati yang tulus dan tidak bersungut-sungut.
Ketulusan dalam memberi persepuluhan itu; bukan seperti orang memberi makan binatang peliharaan, dari sisa (ampas) yang sudah kita makan terlebih dahulu; tetapi Firman Tuhan menegaskan “Bawalah seluruh persembahan itu”, sekali lagi “seluruh”;  Artinya harus 100 % bukan 99 % atau yang sesuai keinginan kita. Kita memang harus memberi, dan pemberian kita itu – harus sesuai dengan keinginan Tuhan; dan yang Tuhan inginkan itu hanya 10 % yang diberikan dengan hati yang 100%.  
Bagi kita yang penuh ketulusan sudah membawa apa yang menjadi Hak Tuhan; Tuhan bahkan mau bilang ke kita: “Ujilah Aku……”.  Semoga !!! 

Rabu, 18 September 2013

BELAJAR DARI HISKIA



Pdt. Okter Tapilouw
2 Raja-raja 20:1-12
 
“Baliklah dan katakanlah Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah Firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengarr doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ke tiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN". (ayat 5).

Hal yang paling mendasar  bagi setiap orang ketika diterpa ‘penderitaan’ adalah:  Keinginan untuk keluar dari penderitaan itu. Saya mengatakan paling mendasar; karena siapapun dia – setiap orang yang sedang diterpa  kesulitan hidup tertentu, sudah pasti berupaya mencari jalan keluar. Dengan kata lain, tidak ada satu manusiapun yang ingin berlama-lama menikmati penderitaan.
 Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan untuk terlepas dari penderitaan hidup ? Bagi orang percaya ‘doa’ merupakan “ekspresi hati” yang ditujukan kepada Allah, salah satunya ketika sedang berada dalam situasi hidup yang kurang menguntungkan.
 2 raja-raja 20:1-12 menceritakan tentang Raja Hiskia yang sakit keras; dan keterangan Alkitab mengatakan bahwa “Hiskia tidak akan sembuh lagi” alis tunggu saatnya untuk mati.
Hancur sudah harapan dan sia-sialah setiap usaha yang telah dilakukan untuk memperoleh kesembuhan, jika ternyata kita tahu bahwa hidup kita tinggal beberapa saat lagi. Kali ini, Hiskia benar-benar tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi – dan apa yang dia tahu bukan dari keterangan atau vonis tabib spesialis kerajaan, tetapi nubuat Allah melalui Nabi Yesaya. Saya kira, kalau  yang mengatakan adalah suster/mantri yang bertugas di jemaat anda, kemungkinan untuk mencari dokter yang lebih ahli masih bisa diupayakan; tetapi kalau itu adalah keputusan yang Maha Kuasa – bagaimana menurut saudara ? Masih adakah pengharapan ? kemana hedak kita melarikan diri ?
Biarlah Alkitab yang menjawabnya: Demikian dikatakan dalam Ibrani 6:18 “supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak didepan kita”
Hiskia sungguh menyadari bahwa Keputusan Allah, tetaplah keputusan Allah dan tidak bisa terbantahkan oleh siapapun, tetapi apa yang terjadi selanjutnya: dikatakan pada ayat 2,3 …”Lalu Hiskia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: “Ah TUHAN ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup dihadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik dimata-Mu.”kemudian menangislah Hiskia dengan sangat.               
Doa merupakan unsur  vital bagi orang percaya, dalam doa kita bergabung dengan TUHAN dalam suatu ikatan spiritual yang kudus, khidmat, dan menunggu penilaian Tuhan terhadap semua yang pernah mengambil bagian dalam seluruh langkah hidup kita (bnd. Yeremia 18:7-10). Pergumulan Hiskia mengajarkan sesuatu yang sangat penting dan menentukan bagi kita yang diterpa dengan rupa-rupa persoalan hidup, bahwa: Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha pengampun adalah Dia yang sedang menunggu, pengakuan yang jujur, serta kesungguhan untuk melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Kesembuhan Hiskia, memperlihatkan Keagungan Kasih Tuhan, yang tidak tega melihat umatnya menderita dan mati karena dosa, dan tanpa pengharapan.
Orang percaya adalah kita semua dalam seluruh kelemahan dan keterbatasan diri, perlu mempunyai keyakinan Iman yang teguh, bahwa Allah sedang memperhatikan dan mengetahui apa yang terjadi dalam seluruh perjuangan kita – dan Dia yang mengetahui, adalah juga Allah yang sangat peka terhadap pengalaman-pengalam hidup, dan keberdosaan umat yang sering mengeluarkan air mata dikala sedang menderita, tetapi lebih banyak air mata takut mati, ketimbang penyangkalan diri; tetapi kalau sedang sehat membuat orang lain mengeluarkan air mata.
Nubuat Allah melalui Yesaya, lebih jauh menunjukan bahwa: Siapapun kita, yang berada dalam berbagai-bagai duka, membutuhkan juga pertolangan Allah yang memakai hamba-hambanya untuk menyatakan kuasaNya (bnd. Yakobus 5:14-15).
Ini kemudian menjadi peringatan bagi orang percaya agar tidak menjadi sombong rohani, yang merasa doanya lebih berkhasiat dari orang lain, dan bagi kita yang telah mengalami jamahan tangan Tuhan, sembuh dari penyakit dan berbagai duka lainnya; Sudah sepatutnya menjadikan Doa bukan semata-mata ritual yang simbolik, atau bagian dari liturgi ibadah keluarga, unit-unit pelayanan dalam jemaat, Ibadah Minggu digereja dan lainnya; seperti rutinitas yang berulang-ulang dan membosankan bagi sebagian orang yang kurang betah mengikuti ibadah, tetapi kalau sedang sekarat: menaikan doa permohonan minta ampun, minta kesembuhan, minta di berikan anak, minta kesuksesan, minta diberikan jodoh dan permintaan lainnya yang banyak-banyak.
Tetapi lebih dari itu; Doa haruslah juga menjadi tindakan yang nyata dalam keseharian hidup.
Titik tolak pengharapan orang percaya adalah iman. Yaitu Iman yang berdoa dan berharap secara penuh, kepada tindakan Allah yang akan mengambil bagian dalam hidup selanjutnya.
Bagi orang percaya, hanya  dengan kesungguhan imanlah; kita diberanikan untuk memasuki masa depan yang lebih berpengharapan bersama keluarga dan orang lain, meskipun harus mengalami perjuangan dan pergumulan hidup yang berat.  Semoga !!!

Selasa, 02 Juli 2013

MENGHADIRKAN RASA AMAN

Refleksi :Yosua 21:43-45
by : Tapilouw M. Okterlians

“Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka keamanan ke segala penjuru, tepat seperti yang dijanjikanNya dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; semua musuhnya diserahkan TUHAN kepada mereka”. (Ayat 44).
Betapa pentingnya suatu keadaan yang aman, damai dan tentram;  mengapa ? hanya kondisi yang kondusiflah , memungkinkan orang bisa melaksanakan aktivitas kesehariaanya dengan baik. Pendek kata,  rasa aman mempermudah apapun yang akan dilakukan ; Karena itu, tanpa “keamanan” orang akan sulit mewujudkan tujuan-tujuan hidup yang lebih menjawab tuntutan dalam berbagai segi kehidupan – bahkan suatu bangsa yang besar sekalipun seperti Bangsa kita Indonesia tercinta ini – akan sulit bagi investor asing datang ke Negara ini, jika keamanannya tidak terjamin. Itu berarti keamanan menjadi kunci bagi kebanyakan orang, termasuk para pembesar Negara kita pun demikian. Saya kira saudara-saudara belum lupa  berita diberbagai media masa beberapa waktu lalu (Oktober 2010) “Presiden Republik Indonesia/ SBY membatalkan keberangkatannya ke Negeri Belanda” karena sekelompok orang Maluku yang menamakan diri RMS di Negeri itu menginginkan Presiden di Adili. Pembatalan itu, mungkin salah satunya karena Faktor keamanan.  ‘Lebih dari itu saya tidak tahu’.
 Ayat 43-45;  menekankan  penyataan kesetiaan Allah dalam memenuhi janji-Nya kepada nenek moyang mereka/Israel (bc. Kej 24:7; 26:3; 50:24), Tanah perjanjian disediakan kepada Keturunan Abrahan. Tetapi untuk masuk dan memiliki tanah itu, bukan dengan Cuma-cuma, atau seperti anak-anak menerima kado Natal – tetapi dengan perjuangan demi perjuangan, penaklukan-demi penaklukan, peperangan demi peperangan. Disinilah Allah menunjukan kasihNya dalam  setiap perjuangan dan kemenangan yang diraih bangsa itu. Bahkan disaat mereka menempati tempat itu pun; Tuhan tetap mengawal mereka (memberikan rasa aman).
Katakan saja bahwa: Allah sudah melaksanakan bagiannya – tinggal bagian umat itu – bagian saya dan anda, tugas kita semua.
Apa bagian kita ?
Pemazmur mengatakan dalam Mazmur 73:26 “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.  Dengan kata lain, bagian kita adalah melakukan kehendak Allah, dan apapun yang akan kita kerjakan nanti – orang percaya harus memulai dengan rasa suka atau cinta kehendak Allah. Mazmur 40:9 : “aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku”. Jadi, kita harus mencintai dulu kehendak Allah itu, baru bisa masuk ke level yang paling tinggi – seperti seorang pendeta, akan sulit baginya untuk menjadi tukang kayu sekaligus, jika tidak belajar dan tekun juga di bidang itu – lama-kelamaan bisa menjadi tukang kayu yang handal, sekaligus pendeta yang bukan cuma asal berkhotbah tetapi bisa bekerja, dan “menolong sesama” dengan tangannya.
Jadi, perjuangan Umat Israel itu, bukan hanya sebatas merebut tanah kanaan dan selesai, tetapi mereka juga harus berjuang lagi ditanah yang sudah didiami. Atau bagi bangsa Indonesia yang sudah merdeka, bukan berarti tidak berperang lagi;  Musuh yang satu sudah selesai, sekarang ada musuh yang lain lagi, yaitu: Keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, keterbelakangan, kemerosotan moral, tindakan kekerasan, pengrusakan alam, dan masih banyak lagi.
 Musuh-musuh ini diserahkan juga ke tangan kita, untuk dikalahkan.  Jika kita belum mengalahkannya, atau sedang hidup didalamnya, jangan katakan kalau kita sudah aman, sudah sejahtera dan sudah senang; Coba lihat disekeliling kita, ada banyak sekali orang-orang percaya yang tidak merasa aman, tertindas dan dipinggirkan, mungkin bukan saja karena mereka malas bekerja atau sulit mendapat pekerjaan, tetapi adakalanya keterpurukan mereka karena ulah kita juga; ulah saudara sendiri, kakak sendiri, orang tua kita, “bos-bos” kita dll. Jujur saja, kalau ternyata kehidupan warga jemaat masih diselimuti oleh kemungkinan-kemungkinan seperti ini juga.
Bagaimana pendapat saudara ?
Apa yang harus kita lakukan selanjutnya untuk menghadirkan “rasa aman”, ditengah-tengah hidup bersama ?
Salah satu poin dalam Pokok-pokok Iman Gereja Protestan Maluku tentang Bangsa akan menjawabnya: Kami percaya bahwa: Umat Kristen adalah bagian dari bangsa Indonesia dalam kerangka Kesatuan Republik Indonesia. Umat Kristen hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia sebagai buah pekerjaan Roh Kudus dan di utus oleh Tuhan sendiri guna menghadirkan damai sejahtera Allah yakni kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah bagi dunia lewat partisipasi secara konstruktif di berbagai bidang dalam pembangunan.
Yang menyenangkan adalah (a) kita yang berjuang dalam kebenaran, (b) yang bekerja sesuai kehendak Allah, dan (c) terus mengejarnya untuk mewujudkan rasa aman/damai dan kesejahteraan bersama dalam keluarga, jemaat dan masyarakat pada umumnya. Semoga !