Refleksi :Yosua 21:43-45
by : Tapilouw M. Okterlians
Betapa pentingnya suatu keadaan
yang aman, damai dan tentram; mengapa ? hanya kondisi yang
kondusiflah , memungkinkan orang bisa melaksanakan aktivitas kesehariaanya
dengan baik. Pendek kata, rasa aman
mempermudah apapun yang akan dilakukan ; Karena itu, tanpa “keamanan” orang
akan sulit mewujudkan tujuan-tujuan hidup yang lebih menjawab tuntutan dalam
berbagai segi kehidupan – bahkan suatu bangsa yang besar sekalipun seperti
Bangsa kita Indonesia tercinta ini – akan sulit bagi investor asing datang ke
Negara ini, jika keamanannya tidak terjamin. Itu berarti keamanan menjadi kunci
bagi kebanyakan orang, termasuk para pembesar Negara kita pun demikian. Saya
kira saudara-saudara belum lupa berita
diberbagai media masa beberapa waktu lalu (Oktober 2010) “Presiden Republik Indonesia/ SBY membatalkan keberangkatannya ke
Negeri Belanda” karena sekelompok orang Maluku yang menamakan diri RMS di
Negeri itu menginginkan Presiden di Adili. Pembatalan itu, mungkin salah
satunya karena Faktor keamanan. ‘Lebih
dari itu saya tidak tahu’.
by : Tapilouw M. Okterlians
“Dan TUHAN
mengaruniakan kepada mereka keamanan ke segala penjuru, tepat seperti yang
dijanjikanNya dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak ada
seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; semua
musuhnya diserahkan TUHAN kepada mereka”. (Ayat 44).
|
Ayat 43-45; menekankan penyataan kesetiaan Allah dalam memenuhi janji-Nya
kepada nenek moyang mereka/Israel (bc. Kej 24:7; 26:3; 50:24), Tanah perjanjian
disediakan kepada Keturunan Abrahan. Tetapi untuk masuk dan memiliki tanah itu,
bukan dengan Cuma-cuma, atau seperti anak-anak menerima kado Natal – tetapi
dengan perjuangan demi perjuangan, penaklukan-demi penaklukan, peperangan demi
peperangan. Disinilah Allah menunjukan kasihNya dalam setiap perjuangan dan kemenangan yang diraih
bangsa itu. Bahkan disaat mereka menempati tempat itu pun; Tuhan tetap mengawal
mereka (memberikan rasa aman).
Katakan saja bahwa: Allah sudah
melaksanakan bagiannya – tinggal bagian umat itu – bagian saya dan anda, tugas
kita semua.
Apa bagian kita ?
Pemazmur mengatakan dalam Mazmur
73:26 “Sekalipun dagingku dan hatiku habis
lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.
Dengan kata lain, bagian kita adalah melakukan
kehendak Allah, dan apapun yang akan kita kerjakan nanti – orang percaya harus
memulai dengan rasa suka atau cinta kehendak Allah. Mazmur 40:9 : “aku
suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku”.
Jadi, kita harus
mencintai dulu kehendak Allah itu, baru bisa masuk ke level yang paling tinggi
– seperti seorang pendeta, akan sulit baginya untuk menjadi tukang kayu
sekaligus, jika tidak belajar dan tekun juga di bidang itu – lama-kelamaan bisa
menjadi tukang kayu yang handal, sekaligus pendeta yang bukan cuma asal
berkhotbah tetapi bisa bekerja, dan “menolong sesama” dengan tangannya.
Jadi, perjuangan Umat Israel itu,
bukan hanya sebatas merebut tanah kanaan dan selesai, tetapi mereka juga harus
berjuang lagi ditanah yang sudah didiami. Atau bagi bangsa Indonesia yang sudah
merdeka, bukan berarti tidak berperang lagi;
Musuh yang satu sudah selesai, sekarang ada musuh yang lain lagi, yaitu:
Keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, keterbelakangan, kemerosotan moral,
tindakan kekerasan, pengrusakan alam, dan masih banyak lagi.
Musuh-musuh ini diserahkan juga ke tangan kita,
untuk dikalahkan. Jika kita belum
mengalahkannya, atau sedang hidup didalamnya, jangan katakan kalau kita sudah
aman, sudah sejahtera dan sudah senang; Coba lihat disekeliling kita, ada
banyak sekali orang-orang percaya yang tidak merasa aman, tertindas dan
dipinggirkan, mungkin bukan saja karena mereka malas bekerja atau sulit
mendapat pekerjaan, tetapi adakalanya keterpurukan mereka karena ulah kita
juga; ulah saudara sendiri, kakak sendiri, orang tua kita, “bos-bos” kita dll. Jujur
saja, kalau ternyata kehidupan warga jemaat masih diselimuti oleh kemungkinan-kemungkinan
seperti ini juga.
Bagaimana pendapat saudara ?
Apa yang harus kita lakukan selanjutnya untuk menghadirkan “rasa aman”, ditengah-tengah hidup
bersama ?
Salah satu poin dalam Pokok-pokok
Iman Gereja Protestan Maluku tentang Bangsa akan menjawabnya: Kami percaya bahwa: Umat Kristen adalah
bagian dari bangsa Indonesia dalam kerangka Kesatuan Republik Indonesia. Umat
Kristen hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia sebagai buah pekerjaan Roh
Kudus dan di utus oleh Tuhan sendiri guna menghadirkan damai sejahtera Allah
yakni kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah
bagi dunia lewat partisipasi secara konstruktif di berbagai bidang dalam
pembangunan.
Yang menyenangkan adalah (a) kita
yang berjuang dalam kebenaran, (b) yang bekerja sesuai kehendak Allah, dan (c) terus
mengejarnya untuk mewujudkan rasa aman/damai dan kesejahteraan bersama dalam
keluarga, jemaat dan masyarakat pada umumnya. Semoga !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar