PORTO-HARIA
BARU
Tanggung Jawab Dalam Pelayanan Gereja
Membangun Kebersamaan dan Persekutuan
Masyarakat Porto dan Haria
Oleh: Pdt. Okterlian.M. Tapilouw, S.Si
PENDAHULUAN
Tulisan ini disusun dan disampaikan, dalam rangka memberi arah bagi Warga Masyarakat Porto dan Haria. Selanjutnya dikemukakan secara singkat
saja – sesuai kendala-kendala yang bermunculan dalam hidup segenap warga masyarakat
Porto dan Haria (Pantauan Tahun 2013).
Setelah menelusuri kejadian demi kejadian yang terjadi, serta
upaya-upaya damai yang telah dilakukan berbagai pihak selama ini; karena itu
tidaklah salah, jika kita memerlukan konsep “PORTO – HARIA BARU” atau arah bagi
segenap warga masyarakat Porto & Haria untuk bertanggung jawab dalam
menjawab perubahan yang telah terjadi.
KEBERSAMAAN,
PERSEKUTUAN DAN TANGGUNG JAWAB WARGA JEMAAT:
Nilai sebuah kebersamaan yang tertuang dalam solidaritas hidup bersama
yang mana mengambil bagian dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tentunya
saling berhubungan, memaknai dan melengkapi dengan aspek integritas
(keterpaduan) yang amat mendalam pada nilai sebuah persekutuan yang telah
menyatu padu dalam hidup Orang Porto maupun Haria dari generasi ke generasi.
Warga masyarakat Porto, adalah merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan sesuai tatanan adatis yang telah membudaya, bahkan ketika Injil
masuk dan merubah “generasi sebelumnya” membawa keluar dari kegelapan menuju
Terang Kristus, demikian juga deng warga masyarakat Haria.
Dari segi kehidupan bergereja sudah tentu kedua belah pihak mendambakan
berbagai perubahan dalam segi-segi kehidupan yang bisa menguntungkan
kebersamaan dan “Persekutuan” (Sosial, kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan,
dll).
Bahwa dalam sebuah tatanan kehidupan berjemaat dan bermasyarakat, sudah
tentu ada begitu banyak perbedaan dan tantangan. Karena itu, perbedaan
pandangan atau cara berpikir yang cenderung sepihak, perlu dikritisi secara
baik (arif dan bijaksana), agar tidak menimbulkan konflik internal maupun
eksternal yang berkepanjangan. Sehingga, mau tidak mau harus di tata sedemikian
rupa sesuai kondisi yang ada.
Sikap keterbukaan (inklusif), diharapkan bisa menjembatani berbagai
perbedaan pandangan dan memberi penghargaan kepada sesama warga masyarakat,
dalam rangka menyatukan segala perbedaan sebagai kekuatan; lebih tepat
“Anugerah Tuhan” yang harus didayagunakan untuk membangun, bukan untuk disepelekan. Dari sini,
solidaritas kebersamaan; harus benar-benar terwujud dalam sikap dan rasa saling
memiliki (Sens Of Belonging) serta saling sepenanggungan dan
sepenanggung jawab (sense of Responsibility).
Hingga tahun 2013 ini, Konflik internal maupun eksternal telah
memperlihatkan adanya berbagai kecenderungan “negatif” yang perlu
ditindaklanjuti dengan melakukan langkah-langkah antisipatif, guna menyadarkan
berbagai pihak – terkait dengan perubahan yang telah terjadi.
Kerja sama antara jemaat porto dan haria harus dikembangkan melalui
program-program bersama (dalam mewujudkan
perdamaian) dan ini harus dimulai dari Gereja. Ini sangatlah penting sebab Warga
Jemaat GPM Porto dan Haria secara implicit sebagai “gereja yang sebenarnya”
dengan segala ketidaksempurnaan, masih selalu ada dalam “situasi” keterpecahan
dalam bingkai hidup persekutuan (Keluarga, jemaat, masyarakat). Karena itu,
sebagai Gereja-gereja yang hidup, warga jemaat Porto dan Haria (POHAR) pada umumnya harus tetap
siuman/sadar dengan kesiapan yang memadai, untuk turut ambil bagian dengan
penuh rasa tanggung jawab, serta bahu –membahu memanggul beban, dan membantu
memecahkan masalah dalam medan gumul bersama secara berkesinambungan.
Prinsipnya; Seluruh Warga Jemaat Porto dan haria harus semakin kritis dan
realistis terhadap segala bentuk kebijakan pelayanan yang menguntungkan
kebersamaan; Bertolak dari pendekatan nilai-nilai dasar Iman Kristen,
keberadaan masyarakat dari sisi adatis dan Wilayah Petuanan Porto dan Haria:
Dari sinilah kita perlu memandang “Negeri Porto dan Haria“ sebagai
“RUMAH BERSAMA” tempat perjumpaan anak-anak
negeri kedua belah pihak dari generasi ke generasi untuk membangun kebersamaan
dan persekutuan yang lebih nyaman, bermutu dan penuh makna; dengan demikian,
dibutuhkan kesadaran aksi yang menyapa di antara sesama saudara dalam upaya
membentuk serta mempertahankan “Identitas Kebersamaan”/”GENEPHA”Generasi Negeri
Porto-Haria sebagai satu kekuatan fungsional untuk menggerakan, mengontrol dan
mengendalikan serta mengarahkan aktivitas seluruh komponen dalam jemaat GPM dan
negeri kedua belah pihak dalam rangka
mewujudkan ideal-ideal kehidupan bersama. Dengan begitu, kita akan lebih leluasa
menentukan sikap hidup yang berpihak pada keadilan, kejujuran dan kebenaran
secara terbuka (tanpa memisahkan diri
atau dibatasi dengan “batas wilayah” kekuasan dll). Bukan tidak mungkin
arah seperti ini, diharapkan lebih menghidupkan fungsi-fungsi kebersamaan yang
telah menjadi bagian hidup bersama/berdampingan hingga saat ini.
PORTO – HARIA BARU (PHB): MENANTANG
JAWAB PERUBAHAN:
PHB yang dimaksudkan disini bukanlah sebuah pemberian nama baru bagi
lokasi tertentu, tetapi lebih menunjuk kepada “GENEPHA” yang telah menjawab
tantangan dan bersedia membuka diri, saling membarui, dan mau mewujudkan
kehidupan bersama yang harmonis, yang dibangun atas dasar iman, cinta kasih dan
kebersamaan demi kepentingan bersama segenap warga jemaat dan Negeri yang telah menjawab berbagai harapan
dan kerinduan untuk berubah.
Pemahaman seperti ini hendak menitikberatkan pada aspek integritas dari persekutuan yang memandang kehidupan
bersama secara utuh dan terpadu. Karena itu, tidak perlu ada pengkotak-kotakan
antara yang lama dan baru, atau layak dan tidaknya “satu negeri” dan
orang-orang yang berdiam di dalamnya; tetapi semuanya ada dalam satu
kebersamaan yang mau berubah dan siap menerima perubahan dan pembaruan.
Sehingga tidaklah salah, jika kita diajak untuk ada dalam semangat persaudaraan
seperti itu.
Adapun beberapa hal yang perlu dilihat dan dijadikan sebagai tolak ukur
dalam menantang jawab perubahan yang sedang terjadi dan akan terus mengalami
berbagai perkembangan ke depan.
1. Interen Jemaat:
a) Wilayah
Pelayanan Jemaat GPM Porto dan Jemaat GPM Haria, kenyataan ini tidak perlu dilihat secara
terpisah atau pandangan sempit lainnya yang menjurus pada sikap memisahkan diri
dari persekutuan awal yang sesungguhnya. Sebelum persekutuan bisa dikatakan
untuk dan terpadu, jika sikap saling menerima dinampakan oleh orang-orang
didalamnya (sebagai warga GPM)
b)
Berupaya mengembangkan sikap hidup bergereja dan
bermasyarakat mulai dari pribadi-pribadi
dalam keluarga, lewat berbagai kegiatan pelayanan yang dikembangkan,
serta memberi peluang untuk pengembangan lebih luas dan menjangkau
hubungan-hubungan kekeluargaan dan atau persaudaraan yang lebih berarti, dalam rangka membentuk
sikap hidup yang lebih dewasa, sehingga diharapkan dapat berfungsi secara maksimal dalam menciptakan dan
mengembangkan kerukunan, merasa bertanggung jawab serta memberi semangat atau
saling mendorong kearah pembaruan hidup yang lebih menghidupkan
(Pembinaan/Pastoral/Ibadah, dll).
c) Perlu
ditingkatkan sikap keterbukaan sesuai batasan etis dan kehidupan moral yang
bertanggung jawab dan karena itu, sikap ketertutupan yang ingin menang sendiri,
atau sikap egois lainnya perlu dihilangkan sehingga sinergisitas pelayanan
diberbagai kalangan dalam jemaat, dapat terarah dan terwujud secara baik.
d) Untuk
membangun kebersamaan “Pasca perbantahan”, Perlu kehati-hatian majelis Jemaat
dalam menempuh kebijakan-kebijakan pelayanan dan kemudian berupaya menjembatani
sikap-sikap warga jemaat yang cenderung ekstrim terhadap arah pelayanan, lewat
“tindakan-tindakan tertentu”yang terkadang tidak kondisional .
Bertolak dari perubahan demi perubahan yang telah terjadi, maka arah
pelayanan ke dua jemaat pun perlu diselaraskan dengan kenyataan yang sedang
terjadi, sehingga seluruh warga jemaat pada dua negeri (POHAR) merasakan
sentuhan yang seimbang.
Dimensi/ukuran tanggung jawab dalam menantang perubahan pada bagian
ini; tidak lebih dari sebuah harapan yang perlu menjadi dasar penilaian, untuk
kemudian menilai dan memaknai rentetan perjalanan bersama hingga saat ini: Mau
tidak mau, memaksa kita segera mengambil keputusan demi kepentingan bersama,
sehingga pada poin berikut ini; Ada beberapa hal (Rekomendasi Pikir) yang perlu
ditindaklanjuti bersama, dalam membangun persekutuan:
Membangun Hubungan Antar Sesama Warga
Jemaat/Desa “Porto –Haria” Perangkat Majelis Jemaat, Pemerintah Desa dan Orang
Bersaudara di Tanah Rantau:
a) Dalam
Upaya membangun hubungan yang harmonis dikalangan Warga Jemaat dan atau
Masyarakat Porto - Haria, pertama-tama harus muncul kesadaran sehati
sepenanggungan, melalui perwujudan sikap yang mau berubah, siap di ubah, dan
kualitas sumber daya warga jemaat yang dewasa dalam menantang berbagai
perkembangan dan perubahan di segala bidang kehidupan; dengan memandang segala
perbedaan sebagai berkat bukannya yang bersifat ancaman.
b) Perlu
dilakukan penguatan hidup bergereja pada kedua jemaat melalui sector/unit-unit
pelayanan; Wadah pelayanan – anak/remaja dan pemuda sebagai Tulang Punggung
Gereja, masyarakat dan bangsa lewat
kegiatan-kegiatan (sharing, diskusi, dialog dll), yang lebih mengena sesuai
kebutuhan segenap warga jemaat secara berkelanjutan, sehingga komunikasi
personal maupun kelompok lebih tertanggung jawab.
c) Majelis
Jemaat sebagai Motor Penggerak Pelayanan dalam Jemaat, perlu meningkatkan
pelayanannya secara lebih
fungsional ditengah-tengah perbedaan
pandangan, sesuai kenyataan hidup warga jemaat yang cenderung mengambil keputusan-keputusan
pribadi yang pada kenyataannya bisa berdampak negatif dan tidak menguntungkan kebersamaan.
d) Untuk
meningkatkan hidup bersama kedua jemaat dan Desa, maka perlu ada sinergisitas
antara Majelis Jemaat dan Pemerintah Desa dalam rapat-rapat dan lainnya semacam
itu; sesuai fungsi, tugas, dan tanggung
jawab masing-masing dalam menghadapi musuh bersama yakni: “ Kemiskinan,
Kebodohan, dan keterbelakangan. Bagaimanapun juga, hidup berjemaat dan
bermasyarakat secara kualitatif (mutu), turut dipengaruhi oleh kepemimpinan
dalam jemaat dan Desa. Ini menjadi penekanan yang sangat penting, karena
disadari bahwa Majelis jemaat sebagai bagian integral dari Gereja, tidak serta
merta lalu menjadi seperti Pahlawan Tunggal bagi keseluruhannya; Sebab di tengah-tengah
kebersamaan dan atau persekutuan ,
semuanya mendapat panggilan dan pengorbanan yang sama – karena itu, semua harus
berjuang demi pencapaian ideal-ideal kehidupan bersama selaku “GENEPHA” (generasi
Porto – Haria) yang membahagiakan ;
sehingga Majelis Jemaat, Pemerintah Desa, Para Guru, dan berbagai pihak (Semua stakeholder) pada kedua Jemaat
semakin meningkatkan “harkat dan martabat”
rasa percaya diri dan harga diri warga jemaat atau Desa secara
menyeluruh dan berkelanjutan disegala bidang kehidupan (baik jasmani, maupun
rohani, fisik maupun non fisik, mental maupun spiritual, sosial,
ekonomi,politik, serta pikiran pembaruan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar