Persepuluhan
Maleakhi 3:6-12
Bawalah
seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada
persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam,apakah
Aku tidak membukakan bagimu
tingkap-tingkap langit dan
mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (ayat 10)
Apa yang sedang diupayakan dalam hidup ini ! Bagi orang percaya – seluruh hidup kita adalah karena Kasih Karunia Tuhan.
Pekerjaan sesehari yang
menumpuk dan menyita waktu, kebutuhan material, berupaya memenuhi pendidikan
anak, juga kebutuhan rohaniah untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Bagaimana seharusnya kita
mewujudkan berbagai hal yang sedang diperjuangkan ?
Di
pertanyakan pada ayat 8: “ Bolehkah manusia menipu Allah ? Namun kamu menipu
Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau ?”
mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus !
Bolehkah
manusia menipu dari Allah ? atau bolehkah Orang Kristen menipu dari Allah ?
Kebesaran Kasih Allah telah nyata
dalam kehidupan kita secara apa adanya. Keterbatasan diri, ketamakan, uang dan
harta kekayaan lainnya: Beberapa hal ini, perlu diwaspadai, sebab jika tidak
ditata dan dimanfaatkan dengan baik, sangat mungkin berpotensi merusak jati
diri anak-anak Tuhan yang harus menyerahkan diri secara utuh kepada Allah.
Sudah banyak yang terbukti; ada yang menjauhi dan dijauhi saudara sendiri,
hidup hanya berpusat pada materi, mengorbankan orang lain untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar – bahkan mungkin untuk memberi bagi Tuhan dalam
pelayanan dan kesaksian – adakah orang Kristen yang main perhitungan ?
Firman Tuhan
bagi bangsa Israel : “Kembalilah
kepadaKu, maka Aku akan kembali kepadaMu.
Kita diharuskan untuk kembali.
Dengan tetap berada dijalan Tuhan, maka Tuhan akan berpihak kepada kita. Tidak
kurang dari orang percaya yang merasa sudah kembali, atau hidup bersama Tuhan,
tapi sebenarnya belum kembali. Saya mengatakan ini, karena banyak dari kita
yang sering menipu diri sendiri. Bagi saya : menipu diri sendiri itu, tidak
beda dengan menipu Tuhan (ingat kisah Ananias dan Safira).
Ketulusan,
kejujuran, dan kerelaan untuk memberi dari hasil kerja keras dan apa yang
sedang dinikmati sekarang ini, adalah juga kebahagiaan untuk memuliakan Tuhan,
dan dari sanalah kita menjadi penyalur-penyalur berkat bagi orang lain.
10% Rugikah
kita ? ketika kita mendapatkan 10.000,-
kemudian memberikan 1.000,- atau
100,000,- dan memberikan 10,000,- sebagai tanda ungkapan syukur kepada Allah yang telah menguatkan kita untuk hidup di
tengah-tengah dunia ini ?
Firman Tuhan
: “Bawalah seluruh persembahan itu ke
dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makan di rumahKu dan ujilah
Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah aku tidak membukakan bagimu
tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan”(ayat
10).
Sudahkah kita memberi ? apa
yang kita beri ? tuluskah kita ? Atau adakah dari kita yang selama ini belum
pernah memberi persepuluhan ?
Andaikata;
Tuhan kita seperti “Rentenir” atau “Tukang Tagih Hutang” !, saya kira ada
begitu banyak orang Kristen yang mengunci pintu rapat-rapat, atau melarikan
diri, lantaran hutang persepuluhannya sudah menumpuk bertahun-tahun dan
sepertinya sulit untuk dilunasi,,,, ha ha ha ha .
Sayangnya Tuhan kita; tidak
seperti itu. Dia bahkan menunggu kita untuk segera bertobat dan berbalik
kepadaNya. Bagi orang percaya, Yesus Kristus telah menjadi persembahan yang sempurna, yang rela menyerahkan dariNya
menjadi tebusan bagi dunia ini. Karena itu tidaklah salah, jika saya mengatakan
bahwa: Apapun yang telah kita terima dari Allah, dan apa pula yang kita berikan
bagiNya, akan mencerminkan hati kita; yaitu: Hati yang rela, tulus, jujur dan
benar. Jika kita dipenuhi dengan
kerelaan, kejujuran, ketulusan, dan kebenaran dalam hal memberi bagi pekerjaan
pelayananNya, maka tidak akan sulit bagi kita untuk melakukannya terhadap
sesama. Sepersepuluh saja sudah menyenangkan Tuhan ! Apalagi 15, 20, 30% dan
seterusnya yang diberi dengan hati yang tulus dan tidak bersungut-sungut.
Ketulusan
dalam memberi persepuluhan itu; bukan seperti orang memberi makan binatang peliharaan,
dari sisa (ampas) yang sudah kita makan terlebih dahulu; tetapi Firman Tuhan
menegaskan “Bawalah seluruh persembahan
itu”, sekali lagi “seluruh”; Artinya
harus 100 % bukan 99 % atau yang sesuai keinginan kita. Kita memang harus
memberi, dan pemberian kita itu – harus sesuai dengan keinginan Tuhan; dan yang
Tuhan inginkan itu hanya 10 % yang diberikan dengan hati yang 100%.
Bagi kita
yang penuh ketulusan sudah membawa apa yang menjadi Hak Tuhan; Tuhan bahkan mau
bilang ke kita: “Ujilah Aku……”. Semoga
!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar