MATIUS 15:21-28
Semua
yang diberikan Bapa kepadaKu
akan
datang kepadaKu,
dan
barangsiapa datang kepadaku,
ia
tidak akan kubuang (Yohanes 6:37)
Jika disimak secara baik Perikop
bacaan ini (Matius 15:21-28); “terkesan” Yesus tidak mempedulikan orang-orang
yang bukan umat Israel – Ingat, yang saya maksudkan “terkesan”, saya tidak
mengatakan kalau Yesus tidak peduli.
Kisah
perempuan Kanaan yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang
kerasukan setan, namun sepertinya Yesus tidak menggubris seruan perempuan itu
(ayat 22-23). Yesus bahkan mengatakan kepada perempuan itu sebagai “tanda
penolakan”; Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari
Umat Israel” (ayat 24; bnd.Mat.10:6; Rm 15:8).
Yang menarik
disini adalah, perempuan Kanaan itu bersikeras dan tidak mau menyerah
“sekalipun sudah ditolak”. Dikatakan pada ayat 25: “tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: Tuhan
tolonglah aku”.
Meskipun
perempuan Kanaan itu berasal dari bangsa yang tidak mengenal Allah Israel, dia
mau mengakui Yesus sebagai Tuhan. Hal ini perlu dilihat sebagai “sebuah
perubahan” (tanpa pertobatan tidak ada perubahan). Yang lebih menegangkan lagi,
sekalipun Yesus sudah disembah sebagai Tuhan, Dia tidak serta-merta menonjolkan
diri, sebagai yang berkuasa untuk menyembuhkan (membuat mujisat), lebih dari
itu, Yesus mengatakan: “tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi
anak-anak dan melemparkannya kepada anjing (ayat 26). Sangat mungkin: “anak-anak”
yang dimaksudkan Yesus dalah Umat Israel dan “anjing” adalah orang kafir yang
tidak mengenal Allah.
Perempuan
Kanaan itu segera menyadari maksud yang terkandung dari perkataan Yesus,
sekaligus mengiyakannya. Perempuan itu berkata: “ Benar Tuhan, namun anjing itu
makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.
Perkataan perempuan itu, lebih
jauh menunjukan sebuah penundukan diri dan kepasrahan penuh dengan segala
keterbatasan yang apa adanya. Dengan menyembah Yesus, dia tidak meminta banyak,
sebaliknya “Cuma Remah-Remah”, kata orang Ambon” Ampas jua seng apa-apa”.
Akhir dari
dialog itu, Yesus mengabulkan permohonan perempuan tersebut, “dan seketika itu
pula anaknya sembuh”.
Satu hal yang perlu dimaknai oleh
kita bahwa bukan sekedar mujizat atau kesembuhan – lebih dari itu, keyakinan
iman yang sungguh untuk terus- menerus datang kepada Tuhan, yang mengakibatkan
apa yang kita harapkan dariNya terjadi dalam hidup kita.
Disembuhkannya anak perempuan
kanaan itu, mengisyaratkan bahwa Yesus yang kita imani adalah Tuhan yang
berpihak juga kepada bangsa-bangsa lain. Yesus mengatakan dalam Injil Yohanes
6:37 “Semua
yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang
kepadaKu, ia tidak akan ku buang”.
Orang
percaya adalah kita yang harus terus berada dalam dialog yang terbuka dengan
Tuhan setiap saat, untuk menyerahkan seluruh hidup dan kerja kita yang penuh
dengan berbagai keterbatasan dan kesalahan, supaya dimampukan oleh Roh Kudus.
Tuhan yang
berkuasa atas seluruh hidup kita, adalah Dia yang mengetahui segala keianginan
dan keluhan kita; Karena itulah Pemazmur mengatakan dalam Mazmur 38:10 “Tuhan,
Engkau mengetahui segala keinginanku dan keluhkupun tidak tersembunyi bagimu”.
Terkadang,
doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan; sepertinya terkesan Tuhan tidak peduli,
Jangan lupa dialog antara Perempuan Kanaan dengan Yesus. Yesus tidak serta
merta meloloskan keinginannya, tetapi dia diuji terlebih dahulu. Artinya,
apapun yang akan kita gadapi disepanjang perjalanan hidup ini, dan apapun juga
yang kita ingini dan harapkan dari Tuhan – yang pasti Yesus menunggu keyakinan
iman yang sungguh dari kita.
Biasanya
yang sering terjadi adalah: Jika sudah mendapatkan yang diinginkan; lupa Tuhan.
Kebanyakan dari orang percaya zaman ini,
sulit untuk menerima kalau yang
diperoleh hanya remah-remah/”ampas”, sebaliknya maunya banyak. Tidak salah jika
kita menginginkan yang banyak, terbaik dan memuaskan; tetapi apa gunanya semua
itu, jika hidup untuk diri sendiri – lupa saudara yang membutuhkan – mau
membantu tetapi pakai perhitungan untung- rugi.
Saya kira, kita harus belajar
dari Perempuan Kanaan itu, kalau bisa “Ampas Jua Seng Apa-apa”.
Yesus pernah
mengecam beberapa kota (bc. Matius
11:20-24). Dalam Matius 11:21 Yesus mengatakan “ Celakalah engkau Khorazim ! Celakalah
engkau Betsaida ! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat
yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan
berkabung”.
Sederhananya; Tuhan tidak mau
kalau iman kita hanya berpatokan pada “mujizat semata”, tetapi iman yang
sungguh dalam kata dan perbuatan untuk mencari Dia dalam doa dan kepasrahan,
serta membiarkan diri dituntun oleh Roh Kudus, sehingga dalam kelemahan dan
keterbatasan, kita dimampukan untuk menanti jawaban Tuhan. Ini yang Yesus
tunggu dari kita. Amin !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar