Oleh: Pdt. M.O. Tapilouw, S.Si
Harapan dikala kita sedang menunggu sesuatu atau
seseorang, selalu membuat kita merasa ingin cepat memiliki, atau ketemu.
Mengapa ? sebab biasanya penantian selalu membuat kita merasa lelah, tidak
sabar, naik darah, apalagi yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Pendek kata,
menanti itu adalah sebuah pekerjaan yang cukup membosankan; dan yang pasti
semua orang yang berada dalam posisi ini ingin cepat dan tidak mau berlama-lama.
Benar kan?
Hal ‘menanti’ bagi orang
Kristen bukan lagi suatu yang asing,
apalagi kalau itu ternyata berhubungan dengan iman kita kepada Allah dalam
Yesus Kristus; buktinya Sekarang kita sedang berada di minggu-minggu Adventus (Minggu penantian). Siapa yang
dinantikan ? Pemazmur mengatakan pada ayat 5 “ Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku
mengharapkan firman-Nya”.
Itu berarti, menanti bagi
orang percaya, bukan seperti orang yang sedang marah-marah lewat Telpon Genggam/HP, kemudian memaksa yang
ditunggu untuk segera datang – atau menunggu ikan yang sedang dibakar, mencim
aromanya dan ingin segera disantap.
Kita sedang menanti; dan
yang Kita Nantikan itu adalah Tuhan Kita Yesus kristus yang tidak hanya
terbatas pada waktu tertentu seperti Tanggal 25 Desember/Hari Natal, tetapi Dia
yang dinantikan adalah yang akan datang pada kali yang kedua sebagai Raja dan
hakim yang adil; Kapan waktunya? ‘yang
tahu cuma Allah Bapa di Sorga’
Ini yang luar biasa – Mengapa luar biasa ? sebab yang
kita tunggu itu bukan teman atau sahabat kita yang biasanya tidak menepati
janji; tetapi yang ditunggu adalah Tuhan kita. Itu berarti bukan kita yang
memutuskan, tetapi Dialah yang memutuskan,,,, sederhananya, karena Dia berkuasa
atas kita maka tugas kita adalah
menunggu dan terus menunggu. Seperti inilah yang dikatakan pemazmur pada ayat 6 “Jiwaku
mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, lebih daripada
pengawal mengharapkan pagi”
Jadi persoalan berada dalam
“penantian yang panjang” terletak pada kesabaran dan tahan uji. Tidak kurang
dari Orang Kristen pada umumnya ketika
berada dalam kesusahan – berdoa dan terus berdoa mengharapkan balasan dari
pihak Tuhan, namun adakalanya penantian kita yang penuh doa itu dirusakan oleh
ego kita yang menginginkan kehendak kita yang jadi. Kita sulit menunggu
berlama-lama – karena itu ada juga yang merasa bosan dan mengambil jalan
pintas; jalan yang gampang ditempuh, yang tidak mau berlelah-lelah dikebun,
yang tidak tahan melihat orang lain sukses, yang ingin cepat kaya kemudian
mencuri, menyusahkan sesama dengan rupa-rupa perbuatan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.
Kita diharapkan untuk tetap
berdoa (ay 1, 2), tetapi bukan hanya sekedar berdoa ketika sedang sekarat atau tidak punya ini dan itu.
Doa yang baik adalah yang mengakui
kesalahan dan keterbatasan diri (ay 3), serta membiarkan Tuhan berencana
terhadap kita. Apa rencana Tuhan Terhadap kita ?. Jangan asal menebak; Kita
hanya bisa menanti, dan di dalam penantian itu, kita diharapkan untuk segera
keluar dari kesalahan dan dosa yang sedang melilit hari-hari hidup bersama
keluarga dan orang lain disekitar.
Harus diakui bahwa: ada saja
kendala demi kendala yang mengambil bagian dalam segi-segi kehidupan yang bervariasi.
Namun, bersama Tuhan dan atas pertolonganNya, kita dimungkinkan untuk mengatasi
masalah, dan diantar keluar untuk semakin menyadari Kasih Tuhan yang tidak
hanya diam bersama kita, tetapi orang lain juga. Ini penting karena Kelahiran
Kristus adalah untuk membebaskan Semua
Umat manusia dari dosa yang membelenggu. Ini baru namanya “IMANUEL” Allah
beserta kita – bukan hanya beserta pendeta saja, tetapi menyertai majelis
jemat, menyertai yang kaya, miskin, perempuan, laki-laki, tua, muda, kecil dan
besar juga. Intinya semua orang dalam segala keadaan, tugas dan tanggung jawab.
Karena itu, “Jiwa yang menanti-nantikan Tuhan”
adalah juga jiwa yang harus menyatu dalam persekutuan dengan orang lain, hidup
dalam ketulusan dan berupaya menjauhi perbuatan jahat – memungkinkan orang lain
menerima kita dengan tangan terbuka; Meskipun begitu, bukan berarti kita sudah
aman dan tidak ada masalah lagi, selebihnya kita harus tetap menyadari bahwa
ada begitu banyak kemungkinan yang bisa membahayakan kita ditengah-tengah dunia
yang telah ganas ini.
Prinsipnya, kalau kita
sedang menantikan Tuhan; itu berarti seluruh keberadaan kita juga sedang
dinantikan; keberadaan yang bisa dipercaya;
keberadaan yang bisa dicontohi; keberadaan yang tidak sekedar membanggakan diri
karena kebaikan sehari tetapi besoknya tidak baik; keberadaan yang tetap
berbuat baik dan saling membebaskan dan berharap pada kasih setia Tuhan yang
sedang memelihara kita. Sebab Dia yang sedang kita nantikan adalah Dia yang
akan membebaskan kita yang tabah menanti dan tetap melakukan kehendakNya. Amin
!!!
Serili, Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar