Rabu, 15 Agustus 2012

JIWA YANG MENANTI (Maz. 130:1-8)


Oleh: Pdt. M.O. Tapilouw, S.Si

Harapan dikala kita sedang menunggu sesuatu atau seseorang, selalu membuat kita merasa ingin cepat memiliki, atau ketemu. Mengapa ? sebab biasanya penantian selalu membuat kita merasa lelah, tidak sabar, naik darah, apalagi yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Pendek kata, menanti itu adalah sebuah pekerjaan yang cukup membosankan; dan yang pasti semua orang yang berada dalam posisi ini ingin cepat dan tidak mau berlama-lama. Benar kan?
Hal ‘menanti’ bagi orang Kristen bukan lagi suatu  yang asing, apalagi kalau itu ternyata berhubungan dengan iman kita kepada Allah dalam Yesus Kristus; buktinya Sekarang kita sedang berada di minggu-minggu Adventus (Minggu penantian). Siapa yang dinantikan ? Pemazmur mengatakan pada ayat 5 “ Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya”.
Itu berarti, menanti bagi orang percaya, bukan seperti orang yang sedang marah-marah lewat Telpon Genggam/HP, kemudian memaksa yang ditunggu untuk segera datang – atau menunggu ikan yang sedang dibakar, mencim aromanya dan ingin segera disantap.
Kita sedang menanti; dan yang Kita Nantikan itu adalah Tuhan Kita Yesus kristus yang tidak hanya terbatas pada waktu tertentu seperti Tanggal 25 Desember/Hari Natal, tetapi Dia yang dinantikan adalah yang akan datang pada kali yang kedua sebagai Raja dan hakim yang adil; Kapan waktunya? ‘yang tahu cuma Allah Bapa di Sorga’
Ini yang luar biasa – Mengapa luar biasa ? sebab yang kita tunggu itu bukan teman atau sahabat kita yang biasanya tidak menepati janji; tetapi yang ditunggu adalah Tuhan kita. Itu berarti bukan kita yang memutuskan, tetapi Dialah yang memutuskan,,,, sederhananya, karena Dia berkuasa atas kita maka  tugas kita adalah menunggu dan terus menunggu. Seperti inilah yang dikatakan pemazmur pada ayat 6 “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi”
Jadi persoalan berada dalam “penantian yang panjang” terletak pada kesabaran dan tahan uji. Tidak kurang dari Orang Kristen  pada umumnya ketika berada dalam kesusahan – berdoa dan terus berdoa mengharapkan balasan dari pihak Tuhan, namun adakalanya penantian kita yang penuh doa itu dirusakan oleh ego kita yang menginginkan kehendak kita yang jadi. Kita sulit menunggu berlama-lama – karena itu ada juga yang merasa bosan dan mengambil jalan pintas; jalan yang gampang ditempuh, yang tidak mau berlelah-lelah dikebun, yang tidak tahan melihat orang lain sukses, yang ingin cepat kaya kemudian mencuri, menyusahkan sesama dengan rupa-rupa perbuatan  yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.
Kita diharapkan untuk tetap berdoa (ay 1, 2), tetapi bukan hanya sekedar berdoa ketika  sedang sekarat atau tidak punya ini dan itu. Doa  yang baik adalah yang mengakui kesalahan dan keterbatasan diri (ay 3), serta membiarkan Tuhan berencana terhadap kita. Apa rencana Tuhan Terhadap kita ?. Jangan asal menebak; Kita hanya bisa menanti, dan di dalam penantian itu, kita diharapkan untuk segera keluar dari kesalahan dan dosa yang sedang melilit hari-hari hidup bersama keluarga dan orang lain disekitar.
Harus diakui bahwa: ada saja kendala demi kendala yang mengambil bagian dalam segi-segi kehidupan yang bervariasi. Namun, bersama Tuhan dan atas pertolonganNya, kita dimungkinkan untuk mengatasi masalah, dan diantar keluar untuk semakin menyadari Kasih Tuhan yang tidak hanya diam bersama kita, tetapi orang lain juga. Ini penting karena Kelahiran Kristus  adalah untuk membebaskan Semua Umat manusia dari dosa yang membelenggu. Ini baru namanya “IMANUEL” Allah beserta kita – bukan hanya beserta pendeta saja, tetapi menyertai majelis jemat, menyertai yang kaya, miskin, perempuan, laki-laki, tua, muda, kecil dan besar juga. Intinya semua orang dalam segala keadaan, tugas dan tanggung jawab. 
Karena itu, “Jiwa yang menanti-nantikan Tuhan” adalah juga jiwa yang harus menyatu dalam persekutuan dengan orang lain, hidup dalam ketulusan dan berupaya menjauhi perbuatan jahat – memungkinkan orang lain menerima kita dengan tangan terbuka; Meskipun begitu, bukan berarti kita sudah aman dan tidak ada masalah lagi, selebihnya kita harus tetap menyadari bahwa ada begitu banyak kemungkinan yang bisa membahayakan kita ditengah-tengah dunia yang telah ganas ini.
Prinsipnya, kalau kita sedang menantikan Tuhan; itu berarti seluruh keberadaan kita juga sedang dinantikan;  keberadaan yang bisa dipercaya; keberadaan yang bisa dicontohi; keberadaan yang tidak sekedar membanggakan diri karena kebaikan sehari tetapi besoknya tidak baik; keberadaan yang tetap berbuat baik dan saling membebaskan dan berharap pada kasih setia Tuhan yang sedang memelihara kita. Sebab Dia yang sedang kita nantikan adalah Dia yang akan membebaskan kita yang tabah menanti dan tetap melakukan kehendakNya. Amin !!!

Serili, Desember 2010

Tidak ada komentar: